Stres bisa membuat jelek ?

1

Stres bisa membuat jelek ?Anda mungkin pernah dengar bahwa stres bisa membuat jerawatan atau rambut rontok. Benarkah begitu ? atau hanya mitos belaka ? Yuk, kita baca apa pendapat para ahli tentang ini.

1. Stres dan Jerawat

Saat stres akan menghadapi ujian atau tes untuk lamaran kerja atau akan menghadapi hari penting seperti pernikahan misalnya, tiba – tiba jerawat bermunculan di wajah. Benarkah penyebabnya adalah stres ? Menurut Dr Howard Murad, ahli dermatologi dan guru skin care, penelitian menunjukkan kaitan langsung antara kadar stres dan peningkatan jerawat. Para ahli kini percaya, ketika stres, tubuh mengeluarkan dua hormon dalam jumlah lebih banyak yang menstimulir kelenjar sebaceous memproduksi minyak berlebihan. Kelebihan minyak ini menyebabkan penyumbatan pada pori, blackhead dan jerawat. Selain itu stres memperlambat proses penyembuhan sampai 40% sehingga jerawat bertahan lebih lama dibanding biasanya.

Cara mengatasi jerawat akibat stres :

Carilah cara – cara yang bisa menenangkan. Jika anda merasa tenang dengan membaca, coba bergabung dengan klub buku. Jika otot terasa tegang atau kaku, dapatkan terapi pijat. Anda harus mampu memahami dan merawat diri anda. Untuk mengatasi jerawat itu sendiri, Dr Murad menganjurkan menggunakan produk khusus untuk memerangi jerawat. Tetapi tetap intinya, jangan terlalu memikirkan hal – hal yang membuat anda semakin stres. Rileks dan terus berpikiran positif agar jerawat cepat menghilang kembali.

2. Stres dan Kerut

Anda mungkin menduga bebas dari kerut karena mengenakan sunscreen. Ternyata kerut juga bisa disebabkan hal yang lain dan salah satunya adalah stres. Sebuah penelitian di San Francisco tahun 2001 mengungkapkan, sel – sel yang terekspos stres kronik menua lebih cepat. Penuaan sel membuat kulit kurang elastis dan kenyal, dan karenanya menyebabkan kerut dan kendur dini. Menurut Dr Murad, ketika stres, otak mengeluarkan neuro peptides-radikal bebas yang dapat merusak membran – membran sel. Radikal – radikal bebas ini merusak membran sel sehingga kehilangan air. Sama seperti kita menusuk kulit buah anggur dan air di dalam buah mengalir keluar. Kehilangan air atau dehidrasi menyebabkan garis – garis halus dan kerut.

Cara mengatasi kerut akibat stres :

Olahraga seperti yoga dan pilates efektif mengatasi stres dan kerut. Makan dengan gizi seimbang dan dapatkan tidur yang berkualitas.

3. Stres dan Rambut Rontok

Menurut Philip Kingsley, ahli kesehatan rambut, stres bisa membuat rambut rontok lebih banyak. Pada kenyataannya, kerontokan rambut bisa terjadi sampai lebih dari 3 bulan setelah peristiwa yang membuat stres. Bahkan dengan semakin cemas akan kerontokan rambut, semakin banyak pula rambut yang rontok.

Cara mengatasi rambut rontok akibat stres :

Mendapatkan suplemen vitamin B dan waktu tidur yang cukup bisa membantu folikel rambut melepaskan rambut secara dini. Dianjurkan juga pemakaian masker rambut yang dipijatkan ke kulit kepala setiap 2 sampai 3 hari kemudian baru di shampoo.

4. Stres dan Uban

Stres juga bisa menyebabkan uban. Menurut Kingsley, stres tampaknya dapat menyebabkan rambut lebih cepat berubah jadi uban dan menghabiskan vitamin – vitamin B yang terkait dengan rambut uban.

Cara mengatasi uban akibat stres :

Tak ada bukti bahwa kita bisa melakukan apapun untuk membalikkan proses rambut berubah menjadi warna semula. Kita hanya bisa memperlambat sedikit dengan meningkatkan asupan makanan – makanan yang kaya vitamin B. Contohnya sayuran daun hijau. Atau terimalah uban apa adanya.

Diatas adalah beberapa contoh bahwa stres bisa membuat kita menjadi lebih buruk atau jelek. Dan masih banyak lagi kerugian yang ditimbulkan stres dilihat dari segi kesehatan, dan sebagainya. Yang bisa kita lakukan adalah, hadapi stres. Terimalah keadaan apa adanya dan berusahalah mencari jalan keluar. Apapun yang terjadi, selalu ada jalan jika kita terus menerus berusaha mencari jalan keluar atas masalah – masalah kita.