Pemain drama terbaik

15

Pemain drama terbaikSuatu ketika di sebuah sekolah, diadakan pementasan drama. Pentas drama ini sangat meriah, dengan pemain yang semuanya adalah siswa – siswi disana. Setiap anak mendapat peran dan memakai kostum yang sesuai dengan tokoh yang akan diperankannya. Semuanya tampak serius, sebab Pak Guru akan memberikan hadiah kepada anak yang tampil terbaik atau pemain drama terbaik dalam pentas. Sementara di depan panggung, semua orangtua murid ikut hadir dan menyemarakkan acara tersebut.

Lakon drama berjalan dengan sempurna. Semua anak tampil dengan maksimal. Ada yang berperan sebagai petani, lengkap dengan cangkul dan topinya. Ada juga yang menjadi nelayan, dengan jala yang disampirkan di bahu. Di sudut sana, tampak pula seorang anak dengan raut muka ketus, sebab dia kebagian peran pak tua yang pemarah, sementara di sudut lain, terlihat anak dengan wajah sedih, layaknya pemurung yang selalu menangis. Tepuk tangan dari para orangtua dan guru kerap terdengar di sisi kiri dan kanan panggung.

Tibalah kini akhir dari pementasan drama. Itu berarti sudah saatnya Pak Guru mengumumkan siapa yang berhak mendapat hadiah. Setiap anak tampak berdebar dalam hati, berharap mereka lah yang terpilih menjadi pemain drama terbaik. Pak Guru telah menaiki panggung, dan tak lama kemudian ia menyebutkan sebuah nama. Ahaaa..ternyata anak yang menjadi pak tua yang pemarah lah pemenangnya. Dengan wajah berbinar, sang anak bersorak gembira. Ia pun bergegas menuju panggung, diiringi kedua orangtua nya yang tampak bangga. Tepuk tangan terdengar lagi.

Pak Guru menyambut mereka. Sebelum menyerahkan hadiah, ia sedikit bertanya kepada sang jagoan, ” Nak, kamu memang hebat. Kamu pantas mendapatkannya. Peranmu sebagai seorang pemarah terlihat bagus sekali. Apa rahasianya ya, sehingga kamu bisa tampil sebaik ini ? ” tanya Pak Guru. Sang anak menjawab, ” Terimakasih atas hadiahnya, Pak. Sebenarnya saya harus berterimakasih kepada Ayah saya. Karena dari Ayah lah saya belajar berteriak dan menjadi pemarah. Kepada Ayah lah saya meniru perilaku ini. Ayah sering berteriak kepada saya, maka bukan hal yang sulit untuk menjadi pemarah seperti Ayah saya. ” Tampak sang Ayah tertegun. Sang anak melanjutkan, ” Ayah membesarkan saya dengan cara seperti ini, jadi peran ini, adalah peran yang sangat mudah bagi saya..”.

Senyap suasana dalam ruangan itu. Kedua orangtua anak tersebut tampak tertunduk. Jika sebelumnya mereka merasa bangga, kini keadaan berubah. Mereka seakan-akan terdakwa di muka pengadilan. Mereka belajar sesuatu hari itu. Ada yang perlu diluruskan dalam perilaku mereka.

Kisah diatas mencerminkan bahwa anak kita adalah peniru, mereka belajar sesuatu dari apa yang kita lakukan, katakan bahkan perbuat. Mereka menjadikan kita contoh, sebagai panutan dalam bertindak dan berperilaku. Mereka laksana air telaga yang merefleksikan bayangan kita sendiri. Peran apa yang sedang kita ajarkan kepada anak – anak kita sekarang ? Contoh apakah yang kita berikan sekarang ini ? Dan panutan apa yang kita tampilkan ? Mereka selalu berada di dekat kita, belajar, menerima kasih sayang dan meniru perilaku kita.

Tentunya kita harus bisa lebih sabar dan ikhlas menerima segala kekurangan dan membantu meluruskan perilaku mereka dengan lembut. Bukankah mereka baru “belajar” tentang sesuatu dimana kita sudah mengenal segala sesuatu selama lebih dari 20 tahun ? Tentu mereka butuh waktu untuk bisa seperti kita  Pemain drama terbaik

Sumber :  Cerita-cerita motivasi