<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Citra Wanita</title>
	<atom:link href="http://www.citrawanita.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.citrawanita.com</link>
	<description>Karena Ku Wanita</description>
	<lastBuildDate>Sun, 29 Jan 2012 17:30:39 +0000</lastBuildDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.9.2</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Hargailah Apa Yang Anda Miliki</title>
		<link>http://www.citrawanita.com/hargailah-apa-yang-anda-miliki/</link>
		<comments>http://www.citrawanita.com/hargailah-apa-yang-anda-miliki/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 17:30:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joanna</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan hati]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[kisah inspirasional]]></category>
		<category><![CDATA[relationship]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.citrawanita.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Ada yang datang dan ada yang pergi..
Bukan tentang apa yang sudah kau dapat,
Tapi sebanyak apa yang bisa kamu beri..
 
Pandanglah dengan hati,
Kamu akan mengerti,
Bahwa segala sesuatu yang ada,
Selalu punya arti dan pantas dihargai..
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;
Semoga kisah inspirasi kali ini membuat kita lebih menghargai apa yang sudah kita miliki :
Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2012/01/forever-love.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-182" title="forever love" src="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2012/01/forever-love-200x300.jpg" alt="" width="200" height="300" /></a><em>Ada yang datang dan ada yang pergi..<br />
Bukan tentang apa yang sudah kau dapat,<br />
Tapi sebanyak apa yang bisa kamu beri..</em></p>
<p><em> </em></p>
<p><em>Pandanglah dengan hati,<br />
Kamu akan mengerti,<br />
Bahwa segala sesuatu yang ada,<br />
Selalu punya arti dan pantas dihargai..</em></p>
<p>&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8211;</p>
<p><strong>Semoga kisah inspirasi kali ini membuat kita lebih menghargai apa yang sudah kita miliki :</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Aku membencinya, itulah yang selalu kubisikkan dalam hatiku hampir  sepanjang kebersamaan kami. Meskipun menikahinya, aku tak pernah  benar-benar menyerahkan hatiku padanya. Menikah karena paksaan orangtua,  membuatku membenci suamiku sendiri. Walaupun menikah terpaksa, aku tak pernah menunjukkan sikap benciku.  Meskipun membencinya, setiap hari aku melayaninya sebagaimana tugas  istri. Aku terpaksa melakukan semuanya karena aku tak punya pegangan  lain. Beberapa kali muncul keinginan meninggalkannya tapi aku tak punya  kemampuan finansial dan dukungan siapapun. Kedua orangtuaku sangat  menyayangi suamiku karena menurut mereka, suamiku adalah sosok suami  sempurna untuk putri satu-satunya mereka.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika menikah, aku menjadi istri yang teramat manja. Kulakukan  segala hal sesuka hatiku. Suamiku juga memanjakanku sedemikian rupa. Aku  tak pernah benar-benar menjalani tugasku sebagai seorang istri. Aku  selalu bergantung padanya karena aku menganggap hal itu sudah seharusnya  setelah apa yang ia lakukan padaku. Aku telah menyerahkan hidupku  padanya sehingga tugasnyalah membuatku bahagia dengan menuruti semua  keinginanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Di rumah kami, akulah ratunya. Tak ada seorangpun yang berani  melawan. Jika ada sedikit saja masalah, aku selalu menyalahkan suamiku.  Aku tak suka handuknya yang basah yang diletakkan di tempat tidur, aku  sebal melihat ia meletakkan sendok sisa mengaduk susu di atas meja dan  meninggalkan bekas lengket, aku benci ketika ia memakai komputerku  meskipun hanya untuk menyelesaikan pekerjaannya. Aku marah kalau ia  menggantung bajunya di kapstock bajuku, aku juga marah kalau ia memakai  pasta gigi tanpa memencetnya dengan rapi, aku marah kalau ia  menghubungiku hingga berkali-kali ketika aku sedang bersenang-senang  dengan teman-temanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Tadinya aku memilih untuk tidak punya anak. Meskipun tidak bekerja,  tapi aku tak mau mengurus anak. Awalnya dia mendukung dan akupun ber-KB  dengan pil. Tapi rupanya ia menyembunyikan keinginannya begitu dalam  sampai suatu hari aku lupa minum pil KB dan meskipun ia tahu ia  membiarkannya. Akupun hamil dan baru menyadarinya setelah lebih dari  empat bulan, dokterpun menolak menggugurkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Itulah kemarahanku terbesar padanya. Kemarahan semakin bertambah  ketika aku mengandung sepasang anak kembar dan harus mengalami kelahiran  yang sulit. Aku memaksanya melakukan tindakan vasektomi agar aku tidak  hamil lagi. Dengan patuh ia melakukan semua keinginanku karena aku  mengancam akan meninggalkannya bersama kedua anak kami.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu berlalu hingga anak-anak tak terasa berulang tahun yang  ke-delapan. Seperti pagi-pagi sebelumnya, aku bangun paling akhir. Suami  dan anak-anak sudah menungguku di meja makan. Seperti biasa, dialah  yang menyediakan sarapan pagi dan mengantar anak-anak ke sekolah. Hari  itu, ia mengingatkan kalau hari itu ada peringatan ulang tahun ibuku.  Aku hanya menjawab dengan anggukan tanpa mempedulikan kata-katanya yang  mengingatkan peristiwa tahun sebelumnya, saat itu aku memilih ke mal dan  tidak hadir di acara ibu. Yaah, karena merasa terjebak dengan  perkawinanku, aku juga membenci kedua orangtuaku.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebelum ke kantor, biasanya suamiku mencium pipiku saja dan diikuti  anak-anak. Tetapi hari itu, ia juga memelukku sehingga anak-anak  menggoda ayahnya dengan ribut. Aku berusaha mengelak dan melepaskan  pelukannya. Meskipun akhirnya ikut tersenyum bersama anak-anak. Ia  kembali mencium hingga beberapa kali di depan pintu, seakan-akan berat  untuk pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika mereka pergi, akupun memutuskan untuk ke salon. Menghabiskan  waktu ke salon adalah hobiku. Aku tiba di salon langgananku beberapa jam  kemudian. Di salon aku bertemu salah satu temanku sekaligus orang yang  tidak kusukai. Kami mengobrol dengan asyik termasuk saling memamerkan  kegiatan kami. Tiba waktunya aku harus membayar tagihan salon, namun  betapa terkejutnya aku ketika menyadari bahwa dompetku tertinggal di  rumah. Meskipun merogoh tasku hingga bagian terdalam aku tak  menemukannya di dalam tas. Sambil berusaha mengingat-ingat apa yang  terjadi hingga dompetku tak bisa kutemukan aku menelepon suamiku dan  bertanya.</p>
<p style="text-align: justify;">“Maaf sayang, kemarin Farhan meminta uang jajan dan aku tak punya  uang kecil maka kuambil dari dompetmu. Aku lupa menaruhnya kembali ke  tasmu, kalau tidak salah aku letakkan di atas meja kerjaku.” Katanya  menjelaskan dengan lembut.</p>
<p style="text-align: justify;">Dengan marah, aku mengomelinya dengan kasar. Kututup telepon tanpa  menunggunya selesai bicara. Tak lama kemudian, handphone ku kembali  berbunyi dan meski masih kesal, akupun mengangkatnya dengan setengah  membentak. “Apalagi??”</p>
<p style="text-align: justify;">“Sayang, aku pulang sekarang, aku akan ambil dompet dan mengantarnya  padamu. Sekarang kamu ada dimana?” tanya suamiku cepat, kuatir aku  menutup telepon kembali. Aku menyebut nama salonku dan tanpa menunggu  jawabannya lagi, aku kembali menutup telepon. Aku berbicara dengan kasir  dan mengatakan bahwa suamiku akan datang membayarkan tagihanku. Si  empunya Salon yang sahabatku sebenarnya sudah membolehkanku pergi dan  mengatakan aku bisa membayarnya nanti kalau aku kembali lagi. Tapi rasa  malu karena “musuh”ku juga ikut mendengarku ketinggalan dompet membuatku  gengsi untuk berhutang dulu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hujan turun ketika aku melihat keluar dan berharap mobil suamiku  segera sampai. Menit berlalu menjadi jam, aku semakin tidak sabar  sehingga mulai menghubungi handphone suamiku. Tak ada jawaban meskipun  sudah berkali-kali kutelepon. Padahal biasanya hanya dua kali berdering  teleponku sudah diangkatnya. Aku mulai merasa tidak enak dan marah.</p>
<p style="text-align: justify;">Teleponku diangkat setelah beberapa kali mencoba. Ketika suara  bentakanku belum lagi keluar, terdengar suara asing menjawab telepon  suamiku. Aku terdiam beberapa saat sebelum suara lelaki asing itu  memperkenalkan diri, “selamat siang, ibu. Apakah ibu istri dari bapak Armandi?” kujawab pertanyaan itu segera. Lelaki asing itu ternyata  seorang polisi,  ia memberitahu bahwa suamiku mengalami kecelakaan dan  saat ini ia sedang dibawa ke rumah sakit kepolisian. Saat itu aku hanya  terdiam dan hanya menjawab terima kasih. Ketika telepon ditutup, aku  berjongkok dengan bingung. Tanganku menggenggam erat handphone yang  kupegang dan beberapa pegawai salon mendekatiku dengan sigap bertanya  ada apa hingga wajahku menjadi pucat seputih kertas.</p>
<p style="text-align: justify;">Entah bagaimana akhirnya aku sampai di rumah sakit. Entah bagaimana  juga tahu-tahu seluruh keluarga hadir di sana menyusulku. Aku yang hanya  diam seribu bahasa menunggu suamiku di depan ruang gawat darurat. Aku  tak tahu harus melakukan apa karena selama ini dialah yang melakukan  segalanya untukku. Ketika akhirnya setelah menunggu beberapa jam, tepat  ketika kumandang adzan maghrib terdengar seorang dokter keluar dan  menyampaikan berita itu. Suamiku telah tiada. Ia pergi bukan karena  kecelakaan itu sendiri, serangan stroke-lah yang menyebabkan  kematiannya. Selesai mendengar kenyataan itu, aku malah sibuk menguatkan  kedua orangtuaku dan orangtuanya yang shock. Sama sekali tak ada  airmata setetespun keluar di kedua mataku. Aku sibuk menenangkan ayah  ibu dan mertuaku. Anak-anak yang terpukul memelukku dengan erat tetapi  kesedihan mereka sama sekali tak mampu membuatku menangis.</p>
<p style="text-align: justify;">Ketika jenazah dibawa ke rumah dan aku duduk di hadapannya, aku  termangu menatap wajah itu. Kusadari baru kali inilah aku benar-benar  menatap wajahnya yang tampak tertidur pulas. Kudekati wajahnya dan  kupandangi dengan seksama. Saat itulah dadaku menjadi sesak teringat apa  yang telah ia berikan padaku selama sepuluh tahun kebersamaan kami.  Kusentuh perlahan wajahnya yang telah dingin dan kusadari inilah kali  pertama kali aku menyentuh wajahnya yang dulu selalu dihiasi senyum  hangat. Airmata merebak dimataku, mengaburkan pandanganku. Aku terkesiap  berusaha mengusap agar airmata tak menghalangi tatapan terakhirku  padanya, aku ingin mengingat semua bagian wajahnya agar kenangan manis  tentang suamiku tak berakhir begitu saja. Tapi bukannya berhenti,  airmataku semakin deras membanjiri kedua pipiku. Peringatan dari imam  mesjid yang mengatur prosesi pemakaman tidak mampu membuatku berhenti  menangis. Aku berusaha menahannya, tapi dadaku sesak mengingat apa yang  telah kuperbuat padanya terakhir kali kami berbicara.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku teringat betapa aku tak pernah memperhatikan kesehatannya. Aku  hampir tak pernah mengatur makannya. Padahal ia selalu mengatur apa yang  kumakan. Ia memperhatikan vitamin dan obat yang harus kukonsumsi  terutama ketika mengandung dan setelah melahirkan. Ia tak pernah absen  mengingatkanku makan teratur, bahkan terkadang menyuapiku kalau aku  sedang malas makan. Aku tak pernah tahu apa yang ia makan karena aku tak  pernah bertanya. Bahkan aku tak tahu apa yang ia sukai dan tidak  disukai. Hampir seluruh keluarga tahu bahwa suamiku adalah penggemar mie  instant dan kopi kental. Dadaku sesak mendengarnya, karena aku tahu ia  mungkin terpaksa makan mie instant karena aku hampir tak pernah memasak  untuknya. Aku hanya memasak untuk anak-anak dan diriku sendiri. Aku tak  perduli dia sudah makan atau belum ketika pulang kerja. Ia bisa makan  masakanku hanya kalau bersisa. Iapun pulang larut malam setiap hari  karena dari kantor cukup jauh dari rumah. Aku tak pernah mau menanggapi  permintaannya untuk pindah lebih dekat ke kantornya karena tak mau  jauh-jauh dari tempat tinggal teman-temanku.</p>
<p style="text-align: justify;">Saat  pemakaman, aku tak mampu menahan diri lagi. Aku pingsan ketika  melihat tubuhnya hilang bersamaan onggokan tanah yang menimbun. Aku tak  tahu apapun sampai terbangun di tempat tidur besarku. Aku terbangun  dengan rasa sesal memenuhi rongga dadaku. Keluarga besarku membujukku  dengan sia-sia karena mereka tak pernah tahu mengapa aku begitu terluka  kehilangan dirinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Hari-hari yang kujalani setelah kepergiannya bukanlah kebebasan  seperti yang selama ini kuinginkan tetapi aku malah terjebak di dalam  keinginan untuk bersamanya. Di hari-hari awal kepergiannya, aku duduk  termangu memandangi piring kosong. Ayah, Ibu dan ibu mertuaku membujukku  makan. Tetapi yang kuingat hanyalah saat suamiku membujukku makan kalau  aku sedang mengambek dulu. Ketika aku lupa membawa handuk saat mandi,  aku berteriak memanggilnya seperti biasa dan ketika malah ibuku yang  datang, aku berjongkok menangis di dalam kamar mandi berharap ia yang  datang. Kebiasaanku yang meneleponnya setiap kali aku tidak bisa  melakukan sesuatu di rumah, membuat teman kerjanya kebingungan menjawab  teleponku. Setiap malam aku menunggunya di kamar tidur dan berharap esok  pagi aku terbangun dengan sosoknya di sebelahku.</p>
<p style="text-align: justify;">Dulu aku begitu kesal kalau tidur mendengar suara dengkurannya, tapi  sekarang aku bahkan sering terbangun karena rindu mendengarnya kembali.  Dulu aku kesal karena ia sering berantakan di kamar tidur kami, tetapi  kini aku merasa kamar tidur kami terasa kosong dan hampa. Dulu aku  begitu kesal jika ia melakukan pekerjaan dan meninggalkannya di laptopku  tanpa me-log out, sekarang aku memandangi komputer, mengusap  tuts-tutsnya berharap bekas jari-jarinya masih tertinggal di sana. Dulu  aku paling tidak suka ia membuat kopi tanpa alas piring di meja,  sekarang bekasnya yang tersisa di sarapan pagi terakhirnyapun tidak mau  kuhapus. Remote televisi yang biasa disembunyikannya, sekarang dengan  mudah kutemukan meski aku berharap bisa mengganti kehilangannya  dengan  kehilangan remote. Semua kebodohan itu kulakukan karena aku baru  menyadari bahwa dia mencintaiku dan aku sudah terkena panah cintanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku juga marah pada diriku sendiri, aku marah karena semua kelihatan  normal meskipun ia sudah tidak ada. Aku marah karena baju-bajunya masih  di sana meninggalkan baunya yang membuatku rindu. Aku marah karena tak  bisa menghentikan semua penyesalanku. Aku marah karena tak ada lagi yang  membujukku agar tenang, tak ada lagi yang mengingatkanku sholat  meskipun kini kulakukan dengan ikhlas. Aku sholat karena aku ingin  meminta maaf, meminta maaf pada Allah karena menyia-nyiakan suami yang  dianugerahi padaku, meminta ampun karena telah menjadi istri yang tidak  baik pada suami yang begitu sempurna. Sholatlah yang mampu menghapus  dukaku sedikit demi sedikit. Cinta Allah padaku ditunjukkannya dengan  begitu banyak perhatian dari keluarga untukku dan anak-anak.  Teman-temanku yang selama ini kubela-belain, hampir tak pernah  menunjukkan batang hidung mereka setelah kepergian suamiku.</p>
<p style="text-align: justify;">Empat puluh hari setelah kematiannya, keluarga mengingatkanku untuk  bangkit dari keterpurukan. Ada dua anak yang menungguku dan harus  kuhidupi. Kembali rasa bingung merasukiku. Selama ini aku tahu beres dan  tak pernah bekerja. Semua dilakukan suamiku. Berapa besar pendapatannya  selama ini aku tak pernah peduli, yang kupedulikan hanya jumlah rupiah  yang ia transfer ke rekeningku untuk kupakai untuk keperluan pribadi dan  setiap bulan uang itu hampir tak pernah bersisa. Dari kantor tempatnya  bekerja, aku memperoleh gaji terakhir beserta kompensasi bonusnya.  Ketika melihatnya aku terdiam tak menyangka, ternyata seluruh gajinya  ditransfer ke rekeningku selama ini. Padahal aku tak pernah sedikitpun  menggunakan untuk keperluan rumah tangga. Entah darimana ia memperoleh  uang lain untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga karena aku tak pernah  bertanya sekalipun soal itu.Yang aku tahu sekarang aku harus bekerja  atau anak-anakku takkan bisa hidup karena jumlah gaji terakhir dan  kompensasi bonusnya takkan cukup untuk menghidupi kami bertiga. Tapi  bekerja di mana? Aku hampir tak pernah punya pengalaman sama sekali.  Semuanya selalu diatur oleh dia.</p>
<p style="text-align: justify;">Kebingunganku terjawab beberapa waktu kemudian. Ayahku datang bersama  seorang notaris. Ia membawa banyak sekali dokumen. Lalu notaris  memberikan sebuah surat. Surat pernyataan suami bahwa ia mewariskan  seluruh kekayaannya padaku dan anak-anak, ia menyertai ibunya dalam  surat tersebut tapi yang membuatku tak mampu berkata apapun adalah isi  suratnya untukku.</p>
<p style="text-align: justify;"><em>Istriku Liliana tersayang,</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Maaf karena harus meninggalkanmu terlebih dahulu, sayang. maaf  karena harus membuatmu bertanggung jawab mengurus segalanya sendiri.  Maaf karena aku tak bisa memberimu cinta dan kasih sayang lagi. Allah  memberiku waktu yang terlalu singkat karena mencintaimu dan anak-anak  adalah hal terbaik yang pernah kulakukan untukmu.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Seandainya aku bisa, aku ingin mendampingi sayang selamanya.  Tetapi aku tak mau kalian kehilangan kasih sayangku begitu saja. Selama  ini aku telah menabung sedikit demi sedikit untuk kehidupan kalian  nanti. Aku tak ingin sayang susah setelah aku pergi. Tak banyak yang  bisa kuberikan tetapi aku berharap sayang bisa memanfaatkannya untuk  membesarkan dan mendidik anak-anak. Lakukan yang terbaik untuk mereka,  ya sayang. </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Jangan menangis, sayangku yang manja. Lakukan banyak hal untuk  membuat hidupmu yang terbuang percuma selama ini. Aku memberi kebebasan  padamu untuk mewujudkan mimpi-mimpi yang tak sempat kau lakukan selama  ini. Maafkan kalau aku menyusahkanmu dan semoga Tuhan memberimu jodoh  yang lebih baik dariku.</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Teruntuk Farah, putri tercintaku. Maafkan karena ayah tak bisa  mendampingimu. Jadilah istri yang baik seperti Ibu dan Farhan, ksatria  pelindungku. Jagalah Ibu dan Farah. Jangan jadi anak yang bandel lagi  dan selalu ingat dimanapun kalian berada, ayah akan disana melihatnya.  Oke, Buddy!</em></p>
<p style="text-align: justify;">Aku terisak membaca surat itu, ada gambar kartun dengan kacamata yang  diberi lidah menjulur khas suamiku kalau ia mengirimkan note.</p>
<p style="text-align: justify;">Notaris memberitahu bahwa selama ini suamiku memiliki beberapa  asuransi dan tabungan deposito dari hasil warisan ayah kandungnya.  Suamiku membuat beberapa usaha dari hasil deposito tabungan tersebut dan  usaha tersebut cukup berhasil meskipun dimanajerin oleh orang-orang  kepercayaannya. Aku hanya bisa menangis terharu mengetahui betapa besar  cintanya pada kami, sehingga ketika ajal menjemputnya ia tetap  membanjiri kami dengan cinta.</p>
<p style="text-align: justify;">Aku tak pernah berpikir untuk menikah lagi. Banyaknya lelaki yang  hadir tak mampu menghapus sosoknya yang masih begitu hidup di dalam  hatiku. Hari demi hari hanya kuabdikan untuk anak-anakku. Ketika  orangtuaku dan mertuaku pergi satu persatu meninggalkanku  selaman-lamanya, tak satupun meninggalkan kesedihan sedalam kesedihanku  saat suamiku pergi.</p>
<p style="text-align: justify;">Kini kedua putra putriku berusia duapuluh tiga tahun. Dua hari lagi  putriku menikahi seorang pemuda dari tanah seberang. Putri kami  bertanya, “Ibu, aku harus bagaimana nanti setelah menjadi istri, soalnya  Farah kan ga bisa masak, ga bisa nyuci, gimana ya bu?”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku merangkulnya sambil berkata “Cinta sayang, cintailah suamimu,  cintailah pilihan hatimu, cintailah apa yang ia miliki dan kau akan  mendapatkan segalanya. Karena cinta, kau akan belajar menyenangkan  hatinya, akan belajar menerima kekurangannya, akan belajar bahwa sebesar  apapun persoalan, kalian akan menyelesaikannya atas nama cinta.”</p>
<p style="text-align: justify;">Putriku menatapku, “seperti cinta ibu untuk ayah? Cinta itukah yang membuat ibu tetap setia pada ayah sampai sekarang?”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku menggeleng, “bukan, sayangku. Cintailah suamimu seperti ayah  mencintai ibu dulu, seperti ayah mencintai kalian berdua. Ibu setia pada  ayah karena cinta ayah yang begitu besar pada ibu dan kalian berdua.”</p>
<p style="text-align: justify;">Aku mungkin tak beruntung karena tak sempat menunjukkan cintaku pada  suamiku. Aku menghabiskan sepuluh tahun untuk membencinya, tetapi  menghabiskan hampir sepanjang sisa hidupku untuk mencintainya. Aku bebas  darinya karena kematian, tapi aku tak pernah bisa bebas dari cintanya  yang begitu tulus.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Sumber : </em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>http://bundaiin.blogdetik.com</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.citrawanita.com/hargailah-apa-yang-anda-miliki/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>2 Years of Blogging Award Penghuni 60</title>
		<link>http://www.citrawanita.com/2-years-of-blogging-award-penghuni-60/</link>
		<comments>http://www.citrawanita.com/2-years-of-blogging-award-penghuni-60/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 29 Jan 2012 16:16:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joanna</dc:creator>
				<category><![CDATA[serba serbi]]></category>
		<category><![CDATA[award]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.citrawanita.com/?p=176</guid>
		<description><![CDATA[Wihh  dapat award   
Maaf yaa terlambat posting..
Mau ngucapin selamat nih untuk sobat blogger Penghuni 60 yang merayakan ulang tahun blog nya ke &#8211; 2, pada tanggal 02 Januari 2012.
Dan seperti biasa, saya adalah salah satu temannya yang beruntung..hihihi..makasih kebaikan hatinya yaa..
Semoga blognya semakin keren, semakin informatif dan semakin diminati banyak orang.
And&#8230;here the award&#8230;

]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Wihh  dapat award  <img src='http://www.citrawanita.com/wp-includes/images/smilies/icon_smile.gif' alt=':)' class='wp-smiley' /> </p>
<p>Maaf yaa terlambat posting..</p>
<p>Mau ngucapin selamat nih untuk sobat blogger <a href="http://penghuni60.blogspot.com/2012/01/2years-of-blogging-award-penghuni-60.html">Penghuni 60</a> yang merayakan ulang tahun blog nya ke &#8211; 2, pada tanggal 02 Januari 2012.</p>
<p>Dan seperti biasa, saya adalah salah satu temannya yang beruntung..hihihi..makasih kebaikan hatinya yaa..</p>
<p>Semoga blognya semakin keren, semakin informatif dan semakin diminati banyak orang.</p>
<p>And&#8230;here the award&#8230;</p>
<p><a href="http://penghuni60.blogspot.com" target="_blank"><img style="width: 345px; height: 400px;" title="2 Years of Blogging Award Penghuni 60" src="http://4.bp.blogspot.com/-PLIgPXv-9kQ/Tv6JOuuBQbI/AAAAAAAABVk/6Ov-Mnt-3cs/s400/2_Years_of_Blogging_Award_Penghuni_60.JPG" alt="2 Years of Blogging Award Penghuni 60" /></a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.citrawanita.com/2-years-of-blogging-award-penghuni-60/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>2</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Waspada Penyakit Asam Lambung</title>
		<link>http://www.citrawanita.com/waspada-penyakit-asam-lambung/</link>
		<comments>http://www.citrawanita.com/waspada-penyakit-asam-lambung/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 15 Jan 2012 05:24:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joanna</dc:creator>
				<category><![CDATA[kesehatan]]></category>
		<category><![CDATA[kanker]]></category>
		<category><![CDATA[penyakit]]></category>
		<category><![CDATA[sehat]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.citrawanita.com/?p=168</guid>
		<description><![CDATA[Gangguan pada lambung yaitu meningkatnya produksi asam lambung yang lebih dikenal dengan penyakit maag merupakan salah satu penyakit yang tidak bisa disepelekan. Meski terkesan penyakit ringan, tetapi jika penderita penyakit asam lambung ini terlalu sering mengidapnya, lama kelamaan dapat juga menimbulkan kanker lambung. Banyak penderita kanker lambung yang gagal disembuhkan dan akhirnya meninggal dunia.
Pada umumnya, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2012/01/obat.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-171" title="obat" src="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2012/01/obat-200x300.jpg" alt="" width="144" height="216" /></a>Gangguan pada lambung yaitu meningkatnya produksi asam lambung yang lebih dikenal dengan penyakit maag merupakan salah satu penyakit yang tidak bisa disepelekan. Meski terkesan penyakit ringan, tetapi jika penderita penyakit asam lambung ini terlalu sering mengidapnya, lama kelamaan dapat juga menimbulkan kanker lambung. Banyak penderita kanker lambung yang gagal disembuhkan dan akhirnya meninggal dunia.</p>
<p style="text-align: justify;">Pada umumnya, masyarakat menganggap bahwa munculnya penyakit asam lambung ini karena terlambat makan atau makan secara tidak teratur. Padahal, ada beberapa hal lain sebagai pemicu naiknya asam lambung yang berlebihan, diantaranya :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Asupan makanan yang kurang baik ( makan makanan yang asam, pedas, minum minuman beralkohol dan kopi )</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Stres fisik dan psikis</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Penggunaan obat &#8211; obatan untuk menurunkan berat badan</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Merokok</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Dalam tingkat yang wajar, penderita penyakit ini dapat disembuhkan dengan mengonsumsi obat maag yang tersedia di apotek dan toko obat. Biasanya obat tersebut diminum atau dikunyah satu jam sebelum makan. Tetapi bagi penderita penyakit maag kronis, penanganan dokter atau pihak medis sangat diperlukan untuk membantu pemulihan dan penetralan asam lambung yang berlebihan itu.</p>
<p style="text-align: justify;">Sebagai salah satu penderita penyakit ini, saya juga biasanya mengonsumsi obat maag yang bisa dibeli di apotek lebih dulu. Jika dalam waktu satu minggu penyakit tidak juga sembuh, segera saya berobat ke dokter untuk proses pemulihan dan penetralan asam lambung.</p>
<p style="text-align: justify;">
<strong>Gejala penyakit asam lambung</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Gejala penyakit ini untuk tahap awal biasanya penderita mengalami kembung, mual, sendawa dan cepat merasa kenyang. Selanjutnya diikuti dengan perih pada lambung, pusing kepala sebelah / migrain, muntah bahkan mencret. Ada pula gejala yang tidak disadari oleh penderita seperti rasa pahit di mulut. Rasa pahit ini timbul karena asam lambung yang berlebihan  mendorong naik ke kerongkongan sehingga kadang kala timbul rasa asam  ataupun pahit pada kerongkongan dan mulut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Gaya hidup sehat yang dianjurkan</strong></p>
<p style="text-align: justify;">1. Usahakan makan secara teratur, dan hindari makanan atau minuman  pencetus asam lambung tinggi ( pedas, asam, berlemak, manis, kopi, minuman soda, minuman keras )</p>
<p style="text-align: justify;">2. Hindari hal &#8211; hal yang bisa membuat stres, karena asam lambung juga erat hubungannya dengan stres. Mencoba menjalani hidup dengan lebih rileks dan teratur.</p>
<p style="text-align: justify;">3. Mengonsumsi kunyit, temulawak, madu, bawang putih laki, daging tanaman lidah buaya dapat mengurangi asam lambung berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;">4. Saat lambung terasa perih, usahakan setiap 2 &#8211; 3 jam lambung diisi dengan makanan, tetapi jangan sampai terlalu kenyang.</p>
<p style="text-align: justify;">5. Kurangi merokok.</p>
<p style="text-align: justify;">Penyakit asam lambung ini memang sulit disembuhkan, tetapi tingkat kekronisannya bisa dikurangi. Mungkin terlihat membaik, tetapi suatu saat akan kambuh kembali. Miliki pola makan teratur dan gaya hidup sehat. Terutama jangan sepelekan penyakit asam lambung anda, karena penyakit remeh ini memiliki bahaya yang besar jika terjadi secara berulang &#8211; ulang dan menahun.</p>
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.citrawanita.com/waspada-penyakit-asam-lambung/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Pintu Yang Tak Terkunci</title>
		<link>http://www.citrawanita.com/pintu-yang-tak-terkunci/</link>
		<comments>http://www.citrawanita.com/pintu-yang-tak-terkunci/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 22 Dec 2011 01:49:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joanna</dc:creator>
				<category><![CDATA[coretan hati]]></category>
		<category><![CDATA[anak]]></category>
		<category><![CDATA[Ibu]]></category>
		<category><![CDATA[kisah inspirasional]]></category>
		<category><![CDATA[The best mom]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.citrawanita.com/?p=159</guid>
		<description><![CDATA[Waktu kau masih kecil
Dan hanya berjarak satu sentuhan
Aku melindungimu dengan selimut
Melawan udara malam dingin&#8230;
Tapi sekarang kau sudah besar
Dan di luar jangkauan,
Aku melipat tanganku
Dan melindungimu dengan doa&#8230;
&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;
Di Glasgow, Skotlandia, seorang wanita muda, seperti kebanyakan  remaja masa kini, merasa bosan akan rumah dan larangan orangtuanya. Anak  itu menolak gaya hidup keluarganya yang religius dan berkata, [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><em><a href="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2011/12/mother1.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-161" title="mother" src="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2011/12/mother1.jpg" alt="" width="248" height="165" /></a>Waktu kau masih kecil</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan hanya berjarak satu sentuhan</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku melindungimu dengan selimut</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Melawan udara malam dingin&#8230;</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Tapi sekarang kau sudah besar</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan di luar jangkauan,</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Aku melipat tanganku</em></p>
<p style="text-align: justify;"><em>Dan melindungimu dengan doa</em>&#8230;</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">Di Glasgow, Skotlandia, seorang wanita muda, seperti kebanyakan  remaja masa kini, merasa bosan akan rumah dan larangan orangtuanya. Anak  itu menolak gaya hidup keluarganya yang religius dan berkata, “Aku tak  mau Tuhan kalian. Aku tak tahan lagi. Aku mau pergi!”</p>
<p style="text-align: justify;">Ia pergi, memutuskan untuk menaklukkan dunia. Namun, tak lama  kemudian, ia berkecil hati dan tak mampu mendapat pekerjaan, jadi ia  turun ke jalan dan menjual tubuhnya sebagai pelacur. Tahun-tahun  berlalu, ayahnya meninggal, ibunya bertambah tua, dan si anak semakin  terjerumus dalam gaya hidupnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Anak dan ibu tak pernah berhubungan selama itu. Si ibu, ketika  mendengar di mana anaknya berada, pergi ke bagian kumuh kota itu untuk  mencari anaknya. Ia berhenti di setiap rumah penampungan dengan  permintaan sederhana. “Bolehkah saya memasang foto ini?” Foto adalah  foto si ibu yang tersenyum dan beruban dengan pesan tulisan tangan di  bawahnya: “Ibu masih sayang padamu…pulanglah!”</p>
<p style="text-align: justify;">Beberapa bulan berlalu dan tak terjadi apa-apa. Lalu suatu hari si  anak masuk ke tempat penampungan untuk makan. Ia duduk melamun  mendengarkan misa, sementara matanya berkelana di papan pengumuman. Di  sana ia melihat sebuah foto dan bepikir, <em>Mungkinkah itu ibuku?</em></p>
<p style="text-align: justify;">Ia tak sabar menunggu berakhirnya misa. Ia berdiri dan pergi  melihatnya. Memang itulah ibunya, dan di bawahnya ada perkataan:  “ Ibu  masih sayang padamu…pulanglah ! ”  Sambil berdiri di depan foto itu, ia  menangis. Rasanya terlalu indah untuk menjadi kenyataan.</p>
<p style="text-align: justify;">Waktu itu sudah malam, tapi ia begitu tersentuh oleh pesan itu  sehingga ia mulai berjalan pulang. Saat ia tiba, hari sudah pagi. Ia tak  berani dan berjalan dengan takut-takut, tak begitu tahu apa yang harus  dilakukannya. Saat ia mengetuk, pintunya terbuka sendiri. Pikirnya,  pastilah ada seseorang yang menyelundup ke dalam rumah.</p>
<p style="text-align: justify;">Sambil  mencemaskan keselamatan ibunya, wanita muda itu berlari ke kamar ibunya  dan mendapatinya masih tidur. Ia mengguncang tubuh ibunya,  membangunkannya, dan berkata, “Ini aku! Ini aku! Aku pulang!”</p>
<p style="text-align: justify;">Sang ibu hampir tak mempercayai penglihatannya. Ia menghapus air  matanya dan mereka berpelukan. Si anak berkata, “Aku cemas sekali!  Pintunya terbuka dan kusangka ada pencuri masuk!”</p>
<p style="text-align: justify;">Sang ibu menyahut dengan lembut, “Tidak, sayang. Sejak kau pergi, pintu itu tak pernah terkunci.”</p>
<p style="text-align: justify;">&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;&#8212;</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">Kisah yang indah tentang kasih seorang ibu, bukan ? Betapa besar kasih seorang ibu kepada anak &#8211; anaknya. Apapun yang dilakukan sang anak, seorang ibu sanggup menerima dan memaafkannya.</p>
<p style="text-align: justify;">Kasih ibu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir. Kasih ibu selalu berputar dan senantiasa meluas, menyentuh setiap orang yang ditemuinya. Melingkupinya seperti kabut pagi, menghangatkannya seperti mentari siang dan menyelimutinya seperti bintang malam. Kasih ibu itu seperti lingkaran, tak berawal dan tak berakhir. <em>( Art Urban )</em></p>
<p style="text-align: justify;">Untuk seluruh Ibu di dunia&#8230;.&#8221; Selamat Hari Ibu &#8220;. Semoga kita semua menjadi ibu &#8211; ibu yang lebih baik lagi bagi keluarga dan anak &#8211; anak kita.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.citrawanita.com/pintu-yang-tak-terkunci/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>10</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kenali Penyebab Rambut Beruban</title>
		<link>http://www.citrawanita.com/kenali-penyebab-rambut-beruban/</link>
		<comments>http://www.citrawanita.com/kenali-penyebab-rambut-beruban/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 11:47:32 +0000</pubDate>
		<dc:creator>joanna</dc:creator>
				<category><![CDATA[kecantikan]]></category>
		<category><![CDATA[cantik]]></category>
		<category><![CDATA[tips]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.citrawanita.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Rambut beruban atau rambut yang berwarna putih pada umumnya terdapat pada seseorang yang telah lanjut usia. Tetapi ditemukan beberapa kasus, rambut beruban ini terjadi juga pada seseorang di usia belia. Sebenarnya apa sih penyebab rambut beruban ? Dan bagaimana cara mengatasinya ?
Banyak yang mengatakan bahwa penyebab munculnya rambut beruban di usia belia adalah karena faktor [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2011/12/rambut-beruban.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-154" title="rambut beruban" src="http://www.citrawanita.com/wp-content/uploads/2011/12/rambut-beruban-242x300.jpg" alt="" width="218" height="270" /></a>Rambut beruban atau rambut yang berwarna putih pada umumnya terdapat pada seseorang yang telah lanjut usia. Tetapi ditemukan beberapa kasus, rambut beruban ini terjadi juga pada seseorang di usia belia. Sebenarnya apa sih penyebab rambut beruban ? Dan bagaimana cara mengatasinya ?</p>
<p style="text-align: justify;">Banyak yang mengatakan bahwa penyebab munculnya rambut beruban di usia belia adalah karena faktor keturunan atau genetika. Memang betul, salah satu faktor penyebab munculnya rambut beruban di usia belia adalah faktor keturunan atau genetika. Tetapi ada beberapa faktor juga yang bisa menyebabkan munculnya uban di usia belia.</p>
<p style="text-align: justify;">Faktor &#8211; faktor tersebut antara lain :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Stres</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Kesulitan beserta tekanan &#8211; tekanan hidup menyebabkan stres yang berlebihan. Stres yang berlebihan inilah salah satu faktor pemicu uban di usia belia. Stres menyebabkan macetnya produksi pigmen pewarna rambut yang disebut melanin. Pigmen ini dihasilkan oleh sel tubuh yang dikenal sebagai melanosit. Jika melanosit tidak lagi memproduksi melanin, rambut akan tumbuh memutih. Namun hal ini hanya bersifat sementara, artinya bila tubuh tidak mengalami stres berlebihan lagi, produksi pigmen akan kembali lancar.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Gaya Hidup</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Gaya hidup yang tidak sehat ini contohnya adalah merokok dan diet yang salah. Nikotin dalam rokok yang terserap dalam darah akan menghambat aliran zat &#8211; zat gizi yang dibutuhkan tubuh sehingga menyebabkan peredaran darah menjadi tidak lancar dan menghambat pertumbuhan rambut juga. Begitu pula dengan diet yang salah, kekurangan gizi atau gizi buruk karena asupan makanan yang kurang seimbang dapat mempengaruhi kesehatan rambut.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Pewarna Rambut</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pemakaian pewarna rambut bukan hanya menempel di batang rambut, tetapi juga meresap ke dalam pori &#8211; pori kulit kepala, dan zat &#8211; zat kimia yang terkandung dalam pewarna tentunya mempengaruhi kesehatan rambut juga. Untuk itu, pilihlah cat rambut dengan cermat sesuai dengan kondisi rambut dan kulit kepala dan tidak menggunakannya secara berlebihan.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>4. Pemakaian Shampo</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Pada umumnya, orang senang dengan shampo yang banyak mengandung busa. Padahal busa yang banyak dalam shampo berarti banyak soda dan justru tidak sehat. Gunakan shampo berbahan dasar alami dan ringan serta hindari air hangat atau panas untuk mencuci rambut.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><strong>Pencegahan rambut beruban di usia dini</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Bagi anda yang kurang percaya diri akibat munculnya uban di usia dini, tidak perlu kuatir. Meski uban yang muncul tidak bisa dihindari, namun setidaknya anda dapat mengurangi laju pertumbuhan uban, sebagai berikut  :</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>1. Olahraga</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Lakukan gerakan &#8211; gerakan ringan yang tujuannya untuk meminimalkan stres sehingga dapat mengurangi laju pertumbuhan uban. Seperti :  meditasi, mengatur pernapasan, akupresur.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>2. Perbaiki Nutrisi</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Konsumsi makanan yang berkhasiat untuk rambut, seperti : jus wortel dan tomat, jus wortel dan bayam, jus melon dan aneka buah yang mengandung banyak vitamin C. Perbanyaklah makan sayuran hijau dan merah karena sayuran ini banyak mengandung vitamin A yang membuat rambut semakin sehat bernutrisi serta kuat dari ancaman kekurangan pigmen. Jangan lupakan protein nabati dari kacang &#8211; kacangan untuk menjaga tekstur rambut tetap halus dan sehat.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>3. Gunakan cara alami</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Cara alami seperti campuran minyak kelapa dan air jeruk nipis pada rambut, kemudian pijat selama 15 menit dan bilas. Atau juga dapat menggunakan teh yang pekat dengan tambahan sesendok garam, kemudian tuang rata ke rambut sambil dipijat perlahan di area kulit kepala. Biarkan selama satu jam, lalu bilas dengan air dingin.</p>
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;">
<p style="text-align: justify;"><em>Dari berbagai sumber</em></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.citrawanita.com/kenali-penyebab-rambut-beruban/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>4</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>

